
Di Bursa Efek Indonesia, ada banyak saham-saham yang bisa kita beli baik untuk investasi jangka panjang maupun trading. Ada saham yang harganya slow but sure artinya harga saham tersebut tidak bergerak cepat naik-turun dalam satu-dua hari tapi mampu memberikan keuntungan besar bila memilikinya dalam jangka panjang (tahunan). Saham-saham seperti ini disebut bluechip yang pada umumnya ialah perusahaan yang sangat baik secara fundamental sehingga dalam jangka panjang harga sahamnya benar-benar mencerminkan nilai perusahaannya serta produknya kita kenal/gunakan sehari-hari seperti Unilever tbk (UNVR), Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Telekomunikasi Tbk (TLKM). [bisa dilihat di finance.yahoo.com, ketik kode saham di atas dan lihat history price nya dalam 1year, 2year, 5year].
Ada juga saham yang harganya seperti bermain Histeria atau Roller Coaster artinya bergerak liar naik-turun drastis bisa bikin kita mual. Saham-saham seperti ini mampu naik 25% dalam 1 hari, mampu juga turun 30% dalam 1 hari. Pada umumnya, saham-saham seperti ini kondisi perusahaannya belum baik secara fundamental, lebih mengandalkan corporate action, maupun rumor dan news yang sedang berkembang. Yup, Coba kita lihat contoh saham yang harganya seperti bermain Histeria ini.
Bumi Resources Tbk (BUMI) – Analisis Pergerakan dana Asing & News

Bagian paling atas: Rentang harga saham BUMI mulai Januari – Mei 2017
Bagian paling tengah: Volume Saham
Bagian paling bawah: Foreign Flow; aliran kepemilikan asing di saham ini
Info News:
27/1/2017 : di Malam hari, Good news mulai muncul di hampir semua media online, dengan konten yang sama http://investasi.kontan.co.id/news/lo-kheng-hong-meraup-angpao-besar-dari-bumi. Banyak Investor heboh sejak adanya berita ini seolah menandakan bahwa Pak Lo Kheng Hong masih memiliki saham ini (termasuk saya). Belakangan, dari informan yang bertemu dengan beliau, memang benar Pak Lo Kheng Hong mendapatkan gain besar dari BUMI karena sudah mengumpulkan saham ini sejak di harga Rp 50 perak dan sebelum munculnya berita itu, beliau sudah menjual hampir seluruh kepemilikan saham BUMI-nya yang tidak tampak dalam news tersebut. 🙂
Februari 2017: Berita bagus-bagus terus bermunculan di bulan ini.



Justru sejak muncul adanya berita bagus, mulai keesokan harinya (30/1) harga saham BUMI terus turun tanpa henti hingga akhir bulan februari. Prasangka saya (sadarnya telat) mengatakan good news sengaja terus dikeluarkan agar Investor cilik dan lokal seperti saya tertarik untuk membelinya dan lihat… Siapa yang menjual? Yup, Asing berhasil menjual saham di harga atas (tentunya sudah memilikinya terlebih dahulu) dan berarti lokal-lah yang membelinya.. Ketika itu, unrealized potential gain 30%an yang saya miliki sebelumnya menjadi hilang tersisa tinggal 0,5%an selama bulan februari karena telat menyadari hal tersebut (telat menjualnya juga).
Setelah harga saham berhasil turun drastis, asing kembali mengumpulkan saham ini walau tidak significantly (lihat kotak hitam kedua dari kiri di paling bawah)
4/4/2017 – harga saham BUMI naik hingga 23,95% dalam sehari, guess.. siapa yang mengambil untung? who’s seller? Yup, Asing kembali berhasil menjual sahamnya di harga tinggi tersebut sebanyak 932,745 M dalam waktu sehari!!. Setelah itu, harga saham terus naik dan asing kembali berhasil terus menjual sahamnya (bisa dilihat foreign flow terus menurun di kotak hitam ketiga paling bawah)
Minggu Akhir Mei, 2017 – Setelah harga saham BUMI berhasil dibuat turun drastis, asing mulai kembali lagi membeli saham ini. 31 Mei 2017 asing net buy di saham ini sebanyak 256,177 M. Selanjutnya, mau dibawa kemana harga saham BUMI ?
Kesimpulan:
Tahap I: Tahap Akumulasi; Big Player / Asing / Pemodal besar membeli saham secara perlahan dan bertahap tanpa ada good news yang keluar di media online. Biasanya tahap ini, harga saham bisa naik namun tidak kencang bahkan bisa bergerak agak datar
Tahap II: Tahap Mark Up; berita-berita baik terus bermunculan agar investor cilik dan lokal minat membeli saham dan harganya bisa naik. Ini dimanfaatkan oleh Big Player / Asing / Pemodal besar guna menjual saham yang telah dikumpulkannya sewaktu Tahap I secara bertahap, masif, dan terus-terusan hingga harga saham kembali turun drastis lagi. Setelah harga saham turun drastis lagi, Asing membelinya lagi kah? Who’s Know…
Disclaimer: Hati-hati dengan saham gorengan-histeria, bisa bikin kolesterol dan jantungan. Tidak ada perintah atau larangan untuk membeli maupun menjual saham ini. Hanya menulis yang ingin ditulis sambil terus belajar. Membuka gelas kosong untuk menampung saran, kritikan, dan tambahan ilmu dengan bahasa santun. Terimakasih 🙂